Skill Wajib Dimiliki Pekerja di Era Artificial Intelligence

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah dunia kerja. Untuk bisa bertahan dan bersaing di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pekerja ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menggunakan AI saja.
Sejumlah pemimpin perusahaan dan pakar sumber daya manusia mengungkapkan keterampilan manusia, seperti berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan rasa ingin tahu, justru semakin dibutuhkan perusahaan. Hal tersebut disampaikan dalam acara Forbes Future of Work Summit yang digelar di New York, Amerika Serikat, pada 6 Oktober 2026.
CEO platform rekrutmen Greenhouse, Daniel Chait bilang, perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat membuat perusahaan kini lebih mengutamakan kemampuan yang dapat bertahan dalam jangka panjang dibandingkan penguasaan teknologi tertentu.
"Karena teknologi berubah begitu cepat, fokusnya bukan lagi pada teknologi spesifik tertentu, melainkan lebih pada karakteristik atau kemampuan yang sifatnya mendasar dan tahan lama," ujar Chait, dikutip dari CNBC Make It, Selasa (13/10/2026).
Ia menilai, keterampilan yang selama ini dianggap sebagai soft skills atau kemampuan nonteknis kini justru menjadi semakin penting di dunia kerja. Lantas, keterampilan apa saja yang perlu dimiliki pekerja agar tetap relevan di era AI? Berikut daftarnya.
1. Rasa Ingin Tahu dan Kemauan Terus Belajar
Chief Talent Officer Walmart, Lorraine "Lo" Stomski bilang, rasa ingin tahu dan kebiasaan belajar sepanjang hayat menjadi salah satu kunci untuk membuka lebih banyak peluang karier. Pekerja yang memiliki keinginan untuk terus belajar dinilai lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Senada, Chief Talent and Culture Officer EY untuk wilayah Amerika, Ginnie Carlier, menyebut kemampuan belajar kini menjadi keterampilan mendasar yang mendukung pengembangan berbagai kemampuan lainnya.
"Ini benar-benar keterampilan yang menjadi landasan bagi kemampuan Anda untuk membangun berbagai keterampilan lainnya," kata Carlier.
2. Kemampuan Beradaptasi dan Ketangguhan Mental
Kemampuan beradaptasi atau adaptability serta ketangguhan dalam menghadapi perubahan atau resilience juga menjadi keterampilan penting di tengah perkembangan AI. Chait mengatakan, kemunculan berbagai perangkat teknologi baru membuat pekerja dituntut untuk cepat mempelajari dan menyesuaikan diri dengan sistem yang terus berubah.
Ia menjelaskan, keterampilan teknis kini cenderung memiliki masa relevansi yang lebih singkat dibandingkan sebelumnya.
"Anda mempelajari sebuah perangkat, kemudian perangkat itu menjadi populer, lalu menghilang. Besoknya, ada perangkat baru lagi yang harus dipelajari," jelasnya.
Sehingga, perusahaan semakin menghargai pekerja yang mampu menunjukkan kemauan belajar, beradaptasi, berkembang, dan memberikan kontribusi dalam berbagai situasi.
"Jika Anda dapat menunjukkan kemampuan untuk belajar, beradaptasi, berkembang, dan memberikan nilai dengan berbagai cara, itulah sesuatu yang sangat ingin dilihat perusahaan," ujar Chait.
3. Berpikir Kritis dan Mengambil Keputusan
Kemampuan berpikir kritis serta membuat penilaian yang tepat juga menjadi semakin penting, termasuk bagi pekerja yang baru memasuki dunia kerja. Stomski mengatakan, perusahaan kini mulai meningkatkan standar dan ekspektasi terhadap kandidat untuk posisi tingkat pemula atau entry-level.
Pasalnya, sejumlah pekerjaan yang sebelumnya menjadi tanggung jawab karyawan baru kini dapat dibantu atau diselesaikan menggunakan AI. Akibatnya, perusahaan mengharapkan pekerja baru sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan pada tingkat yang lebih tinggi.
Sementara itu, Carlier menekankan pentingnya kemampuan mengevaluasi informasi yang dimasukkan ke dalam sistem AI maupun hasil yang dihasilkan teknologi tersebut. Menurutnya, pekerja harus mampu menilai kualitas, ketepatan, serta risiko dari penggunaan AI sebelum memanfaatkan hasilnya untuk pekerjaan.
Kemampuan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab dalam penggunaan AI atau AI responsibility. Artinya, pekerja tidak cukup hanya mampu memberikan perintah kepada AI, tetapi juga harus memahami dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.
"Ini bukan sekadar tentang kemampuan Anda mengetik di keyboard," kata Carlier.
4. Memahami Cara Kerja dan Risiko AI
Selain keterampilan dasar manusia, kemampuan memahami teknologi AI juga menjadi kebutuhan baru di dunia kerja. Vice President of AI sekaligus Head of AI Innovation Indeed, Hannah Calhoon, mengatakan banyak perusahaan kini menekankan pentingnya AI fluency, yakni kemampuan memahami dan menggunakan teknologi AI secara efektif.
Namun, menurutnya, istilah tersebut sering kali digunakan tanpa penjelasan yang jelas mengenai keterampilan spesifik yang dibutuhkan. Calhoon menilai kemampuan memahami AI kini mulai menjadi istilah populer seperti literasi digital. Padahal, kebutuhan setiap perusahaan maupun divisi dapat berbeda.
Secara umum, ia menjelaskan pemahaman dasar AI mencakup pengetahuan mengenai cara kerja teknologi tersebut, kemampuan dan keterbatasannya, potensi risiko, serta cara memeriksa dan mempertanyakan jawaban yang dihasilkan AI.
Dengan demikian, pekerja tidak hanya dituntut mampu menggunakan AI, tetapi juga harus mengetahui kapan teknologi tersebut dapat diandalkan dan kapan hasilnya perlu diverifikasi. Calhoon juga mengingatkan perusahaan agar menjelaskan secara spesifik kemampuan AI yang diharapkan dari para karyawannya.
Keterampilan Manusia Tetap Jadi Pembeda
Meski perkembangan AI menghadirkan peluang baru, para pakar menegaskan tidak ada satu kombinasi keterampilan yang dapat menjamin kesuksesan seseorang dalam dunia kerja. Terlebih, kondisi pasar tenaga kerja yang ditandai dengan rendahnya perekrutan dan pemutusan hubungan kerja membuat sebagian pekerja merasa sulit berkembang atau berpindah pekerjaan.
Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, sekaligus tekanan untuk mengubah cara kerja akibat perkembangan AI. Dalam situasi tersebut, pekerja dinilai perlu terus mengasah kemampuan yang sudah dimiliki sekaligus aktif mempelajari keterampilan baru. Carlier menegaskan kemampuan manusia tetap menjadi faktor pembeda yang penting di tengah semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan.
"Menunjukkan keterampilan unik manusia dan terus berinvestasi untuk mengembangkannya adalah cara untuk membedakan diri Anda dari yang lain," ujarnya.
"Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dilakukan AI, tetapi bisa dilakukan manusia," ujarnya menambahkan.












