,
Hi Aceh
Home/NASIONAL/Zona Megathrust Aceh-Andaman Simpan Potensi Gempa M9,2, Ini Kata Ahli Jepang
NASIONAL

Zona Megathrust Aceh-Andaman Simpan Potensi Gempa M9,2, Ini Kata Ahli Jepang

Redaksi
Redaksi·calendar_todaySeptember 28, 2026·16.53 WIB
Ahli gempa dari Hokkaido University, Jepang, Profesor Kosuke Heki.

Ahli gempa dari Hokkaido University, Jepang, Profesor Kosuke Heki.

BANDA ACEH — Zona Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi gempa maksimum hingga magnitudo 9,2 dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Potensi tersebut kembali menjadi perhatian seiring pandangan ahli Jepang mengenai pentingnya pemantauan pergerakan lempeng bumi untuk memperkuat mitigasi bencana.

Peta terbaru tersebut mencatat 14 zona megathrust di Indonesia, meningkat dibandingkan peta yang diterbitkan pada 2017. Sejumlah wilayah juga menunjukkan tingkat bahaya gempa yang lebih tinggi berdasarkan hasil pemutakhiran kajian.

Ahli gempa dari Hokkaido University, Jepang, Profesor Kosuke Heki, menilai Indonesia memiliki kondisi geologi yang dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan kawasan Nankai Trough di Jepang, salah satu wilayah pertemuan lempeng bumi yang aktif.

Heki mengatakan, pengalaman Jepang menunjukkan gempa besar tidak dapat dipastikan kapan akan terjadi. Karena itu, pemantauan pergerakan dan perubahan bentuk kerak bumi dalam jangka panjang menjadi penting.

"Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar," ujar Heki saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025.

Menurut Heki, teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran di dasar laut dapat membantu para peneliti memantau pergerakan lempeng serta melihat bagaimana tekanan tektonik terus terkumpul.

"Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya," jelasnya.

Heki juga menyoroti fenomena slow slip event, yaitu pergeseran lempeng secara perlahan yang berlangsung tanpa menghasilkan guncangan seperti gempa besar.

Fenomena tersebut telah beberapa kali diamati di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Menurut Heki, fenomena itu berpotensi menjadi salah satu indikator yang perlu terus dipantau dalam memahami aktivitas lempeng.

"Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya," katanya.

Indonesia dinilai memiliki peluang mengembangkan sistem pemantauan serupa karena terdapat banyak wilayah pertemuan lempeng bumi yang aktif, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku.

Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, selain Aceh-Andaman dengan potensi maksimum M9,2, Megathrust Jawa memiliki potensi hingga M9,1. Sementara Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai dan Enggano masing-masing memiliki potensi maksimum hingga M8,9.

Bukan Berarti Gempa Segera Terjadi

Besarnya potensi gempa tersebut tidak berarti gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.

BMKG sebelumnya menjelaskan adanya sejumlah zona megathrust yang masuk kategori seismic gap, termasuk Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kedua wilayah tersebut telah lama tidak mengalami gempa besar, masing-masing sejak 1757 dan 1797.

Namun, kondisi tersebut bukan merupakan prediksi mengenai waktu terjadinya gempa.

BMKG menegaskan istilah “menunggu waktu” dalam pembahasan seismic gap merujuk pada energi yang masih tersimpan akibat belum terlepas melalui gempa besar.

“Yang dimaksud adalah akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG dalam keterangannya.

Karena itu, potensi M9,2 pada Megathrust Aceh-Andaman merupakan gambaran potensi kekuatan gempa berdasarkan kajian sumber gempa, bukan ramalan mengenai kapan gempa akan terjadi.

Bagi Aceh, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan mitigasi, pemantauan aktivitas lempeng, sistem peringatan dini tsunami serta kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di kawasan pesisir.[]

Komentar

0