,
Hi Aceh
Home/DAERAH/Nuri Farisal dan Cara Sederhana Membuka Jendela Dunia Anak Sabang
DAERAH

Nuri Farisal dan Cara Sederhana Membuka Jendela Dunia Anak Sabang

Redaksi
Redaksi·calendar_todayOctober 6, 2026·16.53 WIB
Ketua TP-PKK Kota Sabang sekaligus Bunda PAUD, Nuri Farisal, membacakan cerita dari sebuah buku untuk anak sekolah  di Perpustakaan Kota Sabang, Selasa (6/10).

Ketua TP-PKK Kota Sabang sekaligus Bunda PAUD, Nuri Farisal, membacakan cerita dari sebuah buku untuk anak sekolah di Perpustakaan Kota Sabang, Selasa (6/10).

SABANG — Bagi Nuri Farisal, sebuah cerita bisa menjadi awal dari perjalanan panjang seorang anak. Dari halaman buku yang sederhana, seorang anak bisa mengenal keberanian, persahabatan, kejujuran, hingga mulai membayangkan cita-cita yang ingin diraihnya.

Pesan itu ia bawa ketika Ketua TP-PKK Kota Sabang sekaligus Bunda PAUD tersebut mengajak anak-anak duduk bersama dalam program Bunda Bercerita di Perpustakaan Kota Sabang, Selasa (6/10/2026).

Tidak ada suasana kaku seperti ruang kelas. Anak-anak kelas I dari SD 2 dan SD 12 Kota Sabang diajak menikmati buku dan cerita dengan cara yang menyenangkan.

Nuri pun tidak hanya berdiri menyampaikan pesan. Ia ikut berinteraksi dengan anak-anak, mengajak mereka membaca, menjawab kuis, dan berbincang tentang cerita yang baru saja mereka dengarkan.

Di hadapan anak-anak itu, peran Nuri sebagai “Bunda” terasa lebih dari sekadar sebuah sebutan. Ia mencoba memperkenalkan bahwa membaca bukan aktivitas yang harus selalu serius. Membaca bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, bahkan menjadi momen untuk membangun kedekatan antara anak dan orang dewasa di sekitarnya.

Kegiatan yang digagas Pokja II TP-PKK Kota Sabang itu mengusung tema “Membuka Jendela Dunia, Menumbuhkan Jiwa Literasi Sejak Dini.”

Tema tersebut seolah menggambarkan keyakinan Nuri bahwa mengenalkan buku kepada anak tidak harus menunggu mereka besar. Justru sejak usia dini, rasa ingin tahu perlu dirawat.

Keceriaan anak-anak semakin terasa ketika Relawan Literasi Masyarakat (Relima), Dea Nizatilla, mendongeng kisah “Singa dan Tikus”.

Anak-anak menyimak, kemudian menjawab pertanyaan yang diberikan. Sesekali tawa mereka pecah. Dari sebuah dongeng sederhana, mereka diajak menemukan pesan tentang kebaikan, keberanian dan persahabatan.

Bagi Nuri, itulah kekuatan bercerita.

“Bercerita itu bukan hanya untuk menghibur anak, tapi juga menjadi cara untuk membangun kedekatan antara orang tua dan anak.”

Menurutnya, ketika seorang Bunda atau orang tua meluangkan waktu untuk membacakan cerita, yang diberikan kepada anak bukan hanya pengetahuan. Ada perhatian, kasih sayang dan pengalaman belajar yang kelak dapat melekat dalam ingatan mereka.

Anak mungkin lupa judul buku yang dibacakan. Namun, bisa jadi mereka akan mengingat suasana ketika duduk bersama, mendengarkan cerita dan merasa diperhatikan.

Karena itu, Nuri berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti di perpustakaan. Ia ingin kegiatan bercerita menjadi kebiasaan yang dapat dilakukan orang tua di rumah maupun para pendidik di sekolah.

“Kita berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. Dari sebuah cerita, anak bisa belajar banyak hal, bahkan bisa tumbuh sebuah mimpi dan cita-cita yang besar.”

Dari Perpustakaan, Menumbuhkan Kebiasaan

Kehadiran Nuri bersama TP-PKK Kota Sabang juga mendapat sambutan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Sabang.

Kabid Perpustakaan, Ricky Irvanda, menilai kegiatan seperti Bunda Bercerita dapat membantu menghidupkan perpustakaan sebagai ruang yang lebih dekat dengan masyarakat.

Ia berharap kegiatan tersebut dilakukan secara konsisten sehingga semakin banyak sekolah, komunitas dan masyarakat yang memanfaatkan perpustakaan. Harapan itu sejalan dengan pesan yang ingin dibawa Nuri.

Sebab, membangun budaya literasi tidak selalu harus dimulai dengan program besar. Kadang ia tumbuh dari sesuatu yang sederhana: seorang Bunda yang duduk bersama anak-anak, membuka sebuah buku, lalu mulai bercerita.

Dari sana, anak-anak belajar mengenal kata. Kemudian mengenal cerita. Lalu mengenal dunia. Dan mungkin, tanpa disadari, dari halaman-halaman buku itu pula mereka mulai menemukan jalan menuju mimpi masing-masing.[]

Komentar

0